Setelah Lebih dari 3 Tahun…

17 07 2019

… sekadar setor muka (dulu & lagi! ๐Ÿ™ˆ), supaya tak lupa kalau punya blog ini. Semoga saya juga masih ingat bagaimana cara bikin tulisan… ๐Ÿ˜





Kabisat

29 02 2016

Sekedar menjadi penanda…

55281, 29 Februari 2016

๐Ÿ˜Œ





Ke Sinilah Aku Kembali…

1 09 2013

Hai, blogku! Senang bisa kembali bersua denganmu & mengisi ruang-ruang di dalamnya. Berapa lama kau “terlelap” tanpa gangguan dariku? ๐Ÿ˜€
Semoga mulai hari ini kita bisa sering bercengkerama layaknya dulu kala. Dan, hmm… sepertinya dandananmu perlu sedikit diubah… mau ‘kan? B)





Gelanggang…

1 08 2009

Ho-ho-ho… lama sekali saya tak menyurat di sini…
Pada edisi perdana setelah hibernasi :mrgreen: , izinkan saya untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke-34 kepada Gelanggang Mahasiswa UGM, “rumah kedua” saya di Jogja…
Gelanggang memang kagak ade matinye! ๐Ÿ˜‰

… hmm… itu dulu dah… ๐Ÿ˜€

P.S.: O ya, ultahnya tgl 31 Juli kemarin… 8)





Dua Hal tentang Kemarin

4 02 2009

Akhirnya, para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini turut menghiasi pemandangan di sepanjang bulevar UGM bersedia untuk pindah ke arena food court yang telah disiapkan oleh pihak kampus. Ini saya ketahui dari KOMPAS Yogyakarta edisi tgl 3 Februari 2009, & saya telah membuktikannya sendiri kemarin ketika mampir ke Gelanggang Mahasiswa UGM.
Entah apa yang membuat mereka luluh, padahal dulu sepertinya ngotot banget menolak relokasiย  dengan alasan apa pun (sampai demo segala). Hmm… mungkin mereka pikir akan lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya, ya… ๐Ÿ™„ . So, why not?
Kemarin itu juga, ketika saya mau makan siang di Kantin KOPMA UGM (jadi ini ceritanya “satu paket perjalanan”, gitu… ๐Ÿ˜€ ), saya harus mengantri cukup lama. Maklumlah, pas jam makan siang. Nah, yang ada di depan saya itu bule-bule, lumayan buanyak… (eh, bukan melulu bule, kok… ada satu orang yang bertampang entah India atau Srilanka nyelip di tengah-tengahnya :mrgreen: ). Sebenarnya bule bukan hal yang aneh di UGM, tapi tetap saja kali itu terasa beda. Soalnya seingat saya, selama 14 thn lebih jadi pelanggan di kantin tersebut ๐Ÿ˜‰ , ya baru kemarin itu saya lihat bule dalam satu gerombolan besar (heheh… emangnya apaan ya… ๐Ÿ˜† ) di sana. Biasanya, sih, cuma 2-3 orang.
Kadang-kadang memang seru juga melihat pemandangan di tempat yang lebih sering saya sebut sebagai “kafe” itu. Ya siapa pengunjungnya, juga tingkah polah mereka. Warna-warni! (pssttt… Duta “Sheila on 7” juga suka nongkrong di situ loh, kalau lagi ada di Jogja & nggak sibuk… maksud saya bareng konco-konconya main basket… ๐Ÿ˜› )





Bunga Mangga & Bunga Flamboyan

31 01 2009

Saat ini masih musim penghujan, bahkan tengah memasuki periode puncaknya. Namun saya melihat pohon mangga tetangga sudah mulai berbunga lagi!
Hmm… entah, ya, musimnya yang benar-benar makin kacau atau pohon mangga tetangga saya itu~jenis mangga apel~yang memang tidak mengenal musim tertentu untuk berbuah.
Sementara itu pohon flamboyan~yang konon (?!? ๐Ÿ˜€ ) merupakan salah satu indikator musim~masih juga menampakkan bunga-bunganya yang oranye cantik itu. Pertanda bahwa, ya… masih musim penghujan to… ๐Ÿ˜›





Dua Setengah Bulan

4 11 2008

Dua setengah bulan… Rentang waktu yang bisa dianggap lama, tapi bisa juga dianggap singkat, tergantung konteksnya. Dua setengah bulan itu juga, saya cuma mondar-mandir alias jadi peselancar pasif di jagat per-blog-an. Ehm… tidak pasif juga sebenarnya, karena saya masih sempat “nyampah” di sana-sini. :mrgreen:

Mengapa saya tak kunjung meluncurkan tulisan terbaru? Ah… saya sendiri kadang-kadang bingung. Begitu banyak ide untuk tulisan yang berkeliaran di benak saya, tapi belum satu pun yang mewujud menjadi tulisan utuh. Seperti ada barier yang menghalangi saya untuk menuntaskan ide-ide tersebut (mungkin karena saya masih punya banyak “hutang”? ๐Ÿ˜› ) Boleh jadi, ini juga salah satu bentuk kekonsistenan saya. Kekonsistenan untuk tidak konsisten, maksud saya. ๐Ÿ™„

Yah, semoga saja setelah (tulisan) ini saya bisa mulai konsisten dalam arti yang sesungguhnya. Soalnya tersiksa juga sih, bejibun ide lalu-lalang dalam pikiran tapi tak segera dieksekusi. Ibarat kepingin pipis yang sudah teramat sangat tapi tidak bisa segera menemukan toilet, bisa-bisa menjadi batu yang membahayakan kesehatan… ๐Ÿ˜€ Oh ya, harap maklum juga kalau nantinya tulisan-tulisan saya selanjutnya mungkin ada yang agak basi, basi, atau bahkan basi banget. Itu berarti saya merasa tulisan tersebut masih layak untuk ditampilkan karena ada perspektif lain yang saya angkat dari topiknya (& mudah-mudahan belum ada penulis lain yang mengulasnya, he-he-he…).





Amazing, Maria Kristin!

16 08 2008

Maria Kristin Yulianti, pebulutangkis puteri nomor 1 di Indonesia saat ini, membuktikan bahwa peringkat bukanlah segalanya. Berbekal posisi 21 dunia, Kristin hanya dibebani target untuk bertahan sampai babak 16 besar Olimpiade Beijing 2008. Namun ternyata dia mampu melaju terus lebih dari itu, menjadi satu-satunya pemain non-Cina & nonunggulan yang masuk babak semifinal. Medali perunggu pun diraihnya setelah mengalahkan Lu Lan, peringkat 2 dunia. Ini sekaligus menggagalkan sapu bersih Cina di nomor tunggal putri.
Perjuangannya luar biasa. Sebelum dihentikan Zhang Ning di semifinal, ia ~antara lain~ mengalahkan tiga pemain berperingkat lebih baik daripadanya: Julianne Schenk (13/Jerman), Tine Rasmussen (4/Denmark), & Saina Nehwal (15/India). Paling fenomenal, mungkin, ketika melawan Nehwal. Sempat tertinggal jauh, 3-11, pada set ketiga, Kristin membalikkan keadaan & akhirnya memenangkan pertandingan.
Kesuksesan Kristin di Olimpiade Beijing 2008 sebenarnya sudah mulai “tercium” sejak masuknya dia ke final turnamen Indonesia Superseries 2008. Permainannya tampak jauh lebih matang daripada ketika di putaran final Piala Uber 2008, baik secara teknis maupun dari sisi mental.
Hal itu pula yang terlihat ketika melawan Lu Lan pada pertandingan perebutan medali perunggu. Kalah relatif mudah, 21-11, di set pertama, Kristin mengambil set kedua dengan skor yang sama. Set ketiga diawali dengan tertinggal 0-3, tapi kemudian dia merebut 8 poin berturut-turut. Lajunya pun tak tertahan lagi, walaupun Lu Lan ~yang sudah mulai terlihat panik~ masih sempat menambah poin sampai 13. Sedap sekali melihat permainan Kristin saat itu, dia benar-benar tak terpengaruh oleh gemuruhnya penonton yang jelas mayoritas menyemangati pemain tuan rumah… ๐Ÿ˜€
Omong-omong, saya juga senang sekali hari ini Kristin bisa meraih medali perunggu Olimpiade 2008. Itu serasa jadi kado indah buat ulang tahun saya besok… :mrgreen: Terima kasih, Kristin! Semoga performamu terus menanjak, jangan pernah puas dengan pencapaianmu saat ini…





Maaf, Kesalahan Ada pada Syaraf Anda…

14 08 2008

 Ini bisalah dikatakan sebagai kelanjutan <a title=

Setelah sempat โ€œkagolโ€ gara-gara kehilangan ATM yang bisa mengeluarkan duit 20 ribu, akhirnya saya punya kesempatan untuk โ€œprotesโ€ kepada BNI. Kebetulanโ€”ah iya, sebenarnya kata ini tak ada lagi dalam kamus kehidupan saya! 8) โ€”hari itu (2/7/2008 ) saya akan melakukan adjustment (ini istilah keren untuk pencetakan berbagai transaksi yang terjadi pada rekening kita ๐Ÿ˜€ ) untuk tabungan saya. Lantas muncul pikiran, kenapa tidak sekalian saja menanyakan โ€œsi ATM yang hilangโ€ itu?

Jadilah, sembari menunggu selesainya proses adjustment, saya ajak ngobrol si mbak CS yang saat itu melayani saya. Gambaran percakapan kami kira-kira seperti ini…

Saya (Pm): Mbak, ngngng… ATM 20 ribuan sudah nggak ada lagi, ya?

Si mbak CS (Cs): Hmmh? Ada… itu yang letaknya paling barat. Di UNY juga ada.

Pm: Loh… itu bukannya sudah jadi 100 ribu? Di UNY juga tinggal yang 50 ribuan…

Cs: Masak, sih? Ada, kok…

Ya sudah, daripada jadi debat kusir, saya pun tak meneruskan obrolan. Lagipula misi utama saya bertemu dia sudah selesai. Barangkali tak ada salahnya kalau dibuktikan saja kengototan si mbak CS itu, begitu pikir saya sekeluar dari gedung BNI Cabang UGM.

Saya pun mengarahkan langkah kaki ke gerai ATM. Langsung ke sisi paling barat, tentu saja. Begitu ada di dalam… nah lho, kok tulisan di labelnya (jadi) Rp 20.000 (lagi)? ๐Ÿ˜ฎ

Saya amati lagi seseksama mungkin, iya… itu Rp 20.000… Untungnya saat itu pengunjung tidak sedang berjubel, jadi saya bisa langsung ngeloyor keluar gerai tanpa perlu merasa salah tingkah yang teramat sangat karena mendapat tatapan bernada โ€œngapain ni orang cuma lewat?โ€ dari begitu banyak mata. ๐Ÿ˜ˆ

Sungguh aneh, saya sangat yakin bahwa pada tgl 18 Juni 2008 tidak ada ATM bernominal 20 ribu di BNI UGM. Mata kanan saya memang minus setengah, tapi masih bisa membedakan angka 100 & 20 dengan jarak baca normal sekalipun tanpa kacamata (lho?!? :mrgreen: ). Lalu, apakah syaraf saya yang kurang beres pada saat itu? Atau… mungkin pergantian itu hanya untuk beberapa hari & saya tidak tahu karena antara 19 Juni โ€“ 1 Juli saya sempat โ€œmutungโ€? Atau, hei… jangan-jangan ada pegawai BNI UGM yang membaca tulisan saya di sini ya, makanya terus ATM yang 20 ribuan diadakan lagi! ๐Ÿ˜› Saya, demi segala kemungkinan ajaib yang tiba-tiba melintas di benak itu, cuma bisa geli sendiri sambil geleng-geleng & garuk-garuk kecil di kepala yang tidak terasa gatal… ๐Ÿ˜†

Yah… syukurlah kalau pecahan 20 ribu masih bisa dijumpai di ATM. Namun tetap saja saya keki. Kali ini gara-garanya adalah naiknya biaya administrasi bulanan tabungan saya menjadi 9 ribu! :-< Saya pun ternyata tetap tidak mendapati nominal 20 ribu di ATM BNI UNY (hayo, Mbak CS… buktikan omongan sampeyan… ๐Ÿ˜› ). Jadi, saya hanya punya pilihan tunggal jika ingin mengisi dompet saya dengan lembaran-lembaran hijau bergambar Otto Iskandar Dinata… ๐Ÿ™„





Nuansa Kebangsaan

14 08 2008

Akhirnya… kembali mengorbit lagi di sini setelah lebih dari sebulan lamanya bertapa di taman asketis (sok jadi pertapa, padahal ya tetap saja melakoni hidup seperti biasanya… ๐Ÿ˜› ). Tampilan ruang ini pun saya ubah menjadi bernuansa merah putih. Yah… menyesuaikanlah dengan suasana Indonesia saat ini yang tengah demam akan dua warna itu. Maklum, sedang memperingati kemerdekaan yang diraih 63 tahun yang lalu… 8)

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada para pengunjungโ€”baik yang setia, agak rajin, sampai sekedar numpang lewatโ€”selama saya melanglang-tak-jelas. Teriring pula permintaan maaf karena komentar-komentar yang Anda berikan tak berbalas (tapi jangan kapok, ya… teruslah berkicau karena itu akan sangat menghidupkan ruang ini! ๐Ÿ˜‰ ).

Baiklah… saya tak usah berpanjang kata lagi, silakan Anda teruskan membaca yang lain… ๐Ÿ˜€